Thursday, August 27, 2015

"sarjana kok jadi tukang ojek?"

gojek


Beberapa hari lalu saya sedang menelusuri beranda Facebook, sampai akhirnya mata saya terpaku pada salah satu postingan dari akun tentang parenting yang memposting tentang anak muda yang beramai-ramai antre buat ngelamar jadi pengemudi gojek. I have no problem with the caption, tapi ketika menelusuri kolom komentar banyak nada-nada sumbang yang ditulis tidak hanya oleh satu dua komentator, tapi hampir separuh dari seluruh komentar yang masuk. Rata-rata bersuara hampir sama, “sekolah mahal kok ujung-ujungnya jadi pengendara gojek, percuma kuliah mahal.” Saya tertegun membaca komentar yang bernada antara menyindir dan melecehkan itu. Tapi begitulah sepertinya gambaran masyarakat kita tentang apa pekerjaan yang layak dan tidak layak oleh seorang pemegang gelar sarjana. Menjadi pengemudi ojek dengan title S1 rasanya sebuah pekerjaan yang nista.

Orang Indonesia memang masih tergila gila dengan pekerjaan yang high class, kerja dikantor, ber AC, pakai seragam, naik mobil,dsb. Jangan heran kalo menjadi pegawai negeri adalah impian para sarjana kita. Tidak semua orang Indonesia, tapi kebanyakan bercita-cita seperti itu. Dan orang tua yang mewariskan pemikiran “kamu harus jadi pegawai negeri biar sejahtera” , pada anak-anaknya rasanya memberi sumbangsih yang besar pada tingginya minat para sarjana muda menjadi PNS.

Baca juga : Mau ngelamar kerja? Jangan minder.

Kembali ke pembahasan soal gojek, rasanya masih relevan kalau saya menghubungkan itu dengan pemikiran sebagian besar masyarakat kita kalo lulusan S1 apalagi alumni universitas terkenal, sudah seharusnya bekerja diperusahaan yang bonafid, kerja di BUMN atau di Pemerintahan. Bukan berpanas-panas ria mengantri untuk menyerahkan surat lamaran jadi pengemudi ojek yang seorang lulusan SD pun bisa. Mereka bilang “ngapain tinggi-tinggi sekolah kalo ujung-ujungnya jadi tukang ojek.” Duh, pak, bu, saya yakin dari pertama mereka mendaftar kuliah sampai lulus pun rasanya tidak ada dibenak mereka untuk menjadi pengendara gojek. Saya yakin mereka punya impian masing-masing tentang masa depan mereka. Tapi sayangnya kenyataan kadang tidak semulus apa yang  kita impikan. Disaat seperti itu apakah yang bisa dilakukan hanya menyerah dan berpangku tangan?. Sementara disisi lain ada peluang yang cukup menguntungkan dengan jadi penngendara gojek, kenapa tidak dimanfaatkan.

Banyaknya pro kontra tentang sarjana dengan pendidikan tinggi yang melamar jadi pengendara gojek, adalah gambaran nyata  pemikiran di masyarakat  tentang apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh seorang dengan pendidikan tinggi. Sarjana yang memilih berwirausaha dengan berjualan dipinggir jalan sekalipun penghasilan bersihnya satu juta perhari, masih dipandang sebelah mata dibandingkan  sarjana lain yang bekerja di kantor pemerintahan  dengan gaji bulanan yang kurang lebih sama. Mengklasifikasikan tingkat kekerenan berdasar jenis pekerjaan adalah hal yang sangat umum disekitar kita. Tingkat paling atas tentunya dihuni oleh profesi yang berpangkat dan berseragam. Pegawai negeri,pegawai bank, dan lain-lain. Sampai tingkat yang dianggap pekerjaan kasar dan tidak terlalu memerlukan otak brilian, tukang ojek, tukang bangunan, penjual, tukang cuci piring, penjaga toko, pengasuh anak, dll. Kalo jenis pekerjaan yang kedua ini dikerjakan oleh mereka yang tidak tamat sekolah mungkin hal yang lumrah. Tapi ketika yang mengerjakan ini adalah sarjana berpendidikan tinggi, maka bersiaplah menerima pandangan sinis dan ocehan nyinyir, seolah-olah hal itu adalah aib.

Rasanya kita tidak perlu memandang remeh pada sarjana yang melakukan pekerjaan kasar. Masalah pantas tidak pantas, layak tidak layak, itu pandangan yang subjektif. Toh selama pekerjaan yang dilakukan halal dan penuh keikhlasan, apa yang harus dipermasalahkan. Mari lihat dari sudut pandang yang lain,  mereka yang rela memulai pekerjaan dari bekerja kasar itu adalah pribadi yang gigih dan berani melawan pemikiran negatif didalam dirinya. Karena kita tidak pernah tau masa depan akan seperti apa. Mereka hanya melakukan apa yang mereka bisa lakukan daripada pasif dan berdiam diri.



photo source :http://www.duniaku.net/2015/06/14/konflik-gojek/

This Is The Oldest Page

17 komentar

saya sendiri malah salut kepada mereka2 yg sarjana mau terjun ke profesi ini, dan saya sangat bangga kepada mereka, mereka tidak malu, mereka pekerja keras...toh yg penting halal...jgn menyerah teman selalu ada jalan, asal kita berusaha dan berdoa......semoga sukses ya...

sistem pendidikan kita yg salah, yg diajarkan adalah output-nya menjadi pekerja bukan "pemberi kerja".

Sya jg mengkritisi "sekolah tinggi2 kok jadi ojek!" karena dgn status "Well educated" mestinya mrk bisa lebih tp bkn berarti bekerja di perusahaan bonafit. Sya pernah ke daerah jawa timur, disana bnyk yg ingin sekolah tinggi tp tetap terjun ke pekerjaan kasar sbg pengawas kandang, pengawas pakan (layer & broiler farm) sekolah tinggi2 di ipb atau ipb tp tetap bekerja kasar sbg technical sales diperusahaan pestisida, penyuluh pertanian dll.

Jakarta mgkn sulit utk mencari pekerjaan spt tadi, tapi dgn keilmuan mrk dan dgn cepatnya pergerakan ekonomi jakarta justru jadi keuntungan dibanding daerah lain. Para pelamar ojek yg berstatus "well educated" tadi bisa memanfaatkan keilmuan, pengalaman riset kuliah, dan jaringan mrk utk membantu perekonimian masyarakat dgn sbg pengusaha meski dimulai dr usaha UKM.

Rata2 pelamar ojek dgn status "well educated" tadi ketika dulu pernah diwawancarai media (sekitar 2015) mengatakan krn tertarik dgn pemasukan sbg ojek tsb yg lbh tinggi dr pd bekerja diperusahaan, nah artinya mrk bersikap pragmatis.

Sya saat ini hanya berijazah SMA tapi sya tertarik dgn kedaulatan pangan. Mohon maaf kalo dianggap opini yg subjektif dan minim info, sekedar menuang buah pikiran aja ��

Lebih terhormat lulusan SARJANA menjadi pengojek dari pada memilih menjadi koruptor.....

Seharus nya Menteri tenaga kerja merubah upah UMR sesuai dengan jejang pendidikan nya. Jangan di sama ratakan. Sehingga memotivasi generasi muda untuk terus belajar setinggi2nya.

Saya sarjana, kerja kantoran di bilangan SCBD nine to vife. Pulang kerja langsung nyari penumpang, sy gojek.Maklum sy hrs nyari tambahan uang buat bayar cicilan kpr. Thanks gojek dan ojek online yg lain udah bantu masyarakat.

This comment has been removed by a blog administrator.

saya mengerti pemikiran anda. Saya juga tidak memungkiri bahwa ada yang mungkin lebih memilih jadi pengemudi ojek online karena pendapatan yang lebih besar dibanding pekerjaan lain. But, saya gak bisa menyalahkan mereka karena money matters, apalagi tinggal dikota besar seperti Jakarta. Yang ingin saya kritisi disini lebih ke pandangan orang orang yang memandang rendah sarjana yang memilih pekerjaan yang "tidak biasa" dibanding bekerja kantoran dengan gelar yang mereka miliki. Faktanya mungkin saja mereka sudah melamar kesana kemari tapi belum berhasil dan ketika ada kesempatan untuk menjadi pengemudi ojek online dengan penghasilan setara pekerja kantoran, why not?. Take a chance, masalah kerjaan yang lebih layak bisa dicari sambil jalan. Disatu sisi saya kagum dengan keberanian mereka. Not everyone has such courage to break the norm, not conform to what society expect them to be. Dan perihal memanfaatkan keilmuan yang mereka miliki, tetep bisa kok. saya punya kenalan yang jadi pengemudi ojek online dan paginya ngajar di SD sebagai guru honorer karena dia lulusan pendidikan.
terima kasih atas komennya anyway :)

Terima kasih juga atas sharingnya mas gojek keren :). Maaf komen satunya saya hapus soalnya kedobel.

Nah itu, keberanian untuk mengerjakan pekerjaan yang dianggap rendah itu yang gak semua orang punya.

Gaji sarjana kerja di kontraktor(PMA sekalipun) itu sekitar 4 jutaan belum dikurangi transportasi, makan diluar dll. di Gojek bisa lebih dari itu.
Tapi yg penting lagi kelebihan penghasilan itu harus di Investasikan, misalnya ke Produk Reksadana Saham.
Kalau tidak, mau bekerja dimanapun klo tidak berinvestasi akan susah nantinya.

Sebenernya tidak ada yang salah dan juga tidak ada yang paling benar...
mungkin yang terlintas dipemikiran saya ketika membaca postingn ini adlah,

semua orang pastinya menginginkan material yang layak dan halal didapat tapi kebanyakan dari mereka tidak ingin bersikap adil dan maunya menang sendiri... ini adalah sifat yang wajar bagi manusia...
seperti halnya slogan "yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin", saya akui penghasiln ojek online saat ini adalah setara dengan penghasil jika kita bekerja di perusahaan atau perkantoran...tapi alangkah baiknya jika dari awal pembukaan lowongan pekerjaan ini dikhususkan untuk para pengangguran yang belum mendapat pekerjaan yang layak... maka ekonomi kita akan stabil dengan adanya keadilan dalam porsi kerja untuk ruang publik...

// halah ngomong apas sih..hehe//

intinya ya cari nafkah dengan cara yang halal dan berkah!...

saya juga baru lulus menyelasaikan s 1 tapi saya tetep ikut gojek lumayan kan buat tambahan. sambil berjalan nyari lowongan kerjaan nah kalo udah dapet kerjaan kan penghasilan saya jadi double haha...
saya sangat menyayangkan kepada orang yang bilang ngapain sekolah tinggi" ujung"nya cuma jadi ojek (cuma orang kampungan yang bilang begini). emangnya setiap orang mau apa jadi ojek? enggaaak!!! saya hanya ingin memanfaatkan kesempatan yang ada. emangnya kenapa dengan tukang ojek? sama" manusia makan nasi juga tujuannya juga nyari uang halal sama kaya pekerjaan lainnya cuma beda jalannya aja.

Meskipun saya bukan tukang ojek, tp saya disini bukan bahas itu guys, seiring dengan susahnya mencari pekerjaan sayapun sarjana S1 dan saya akui mencari pekerjaan itu susah, menurut saya yang penting usaha, zaman sekarang buat apa gengsi melakukan pekerjaan, yang penting bekerja dan punya penghasilan, dari pada sarjana menganggur? Jujur saya salut keberanian beberapa sarjana kt yg beralih ke profesi seperti itu, buat apa dengerin omongan orang guys yg penting halal, tp jangan lupa berusaha terus agar mendapatkan pekerjaan yg lebih baik

Gak usah terpengaruh sama komentar orang lain soal pekerjaanmu selama itu halal. Kalau kamu merasa tersinggung artinya kamu sedikit banyak mengakui bahwa pekerjaan itu tampak rendaham seperti komentar mereka.
Sejak dulu, manusia sudah meng kasta kasta kan segala hal dalam pergaulan sosial, cukup diri sendiri yakin bahwa pekerjaan itu adalah baik dan mampu mencukupi hidup maka kerjakan.
Maksud dari komentar kenapa sekolah tinggi2 tapi cuma jadi driver ojek online bisa kita terima sebagai sebuah perasaan disayangkan bahwa ilmu yang begitu sulit di caro dan ditanamkan ternyata tidak mampu diaplikasikan sengan maksimal karena dalam hidup semua orang pada dasarnya mengutamakan bagaimana caranya untuk menghasilkan uang dan bertahan hidup ketimbang bagaimana caranya untuk living life to the fullest. hidup tidak semudah itu.

Iya itulah beban klo punya tittle tinggi,mau kerja ini takut dibilng a,b,c,q juga sampai skrg blum kerja,mau dicarikan kerja sbg penjaga toko rsany untuk menrima pekerjaan itu rsany berart,ada rsa malu jika jd penjaga toko,tp disisi lain kebutuhan hidup hrus dipenuhi.

Baik org non educated dan well educated, dan apapun profesi mu ujung2nya nyari uang, jadi menurut saya, apa yg bisa dikerjakan dan tidak merugikan orang lain, ngk apa2, bukan suatu aib atau haram seorang sarjana jd driver online atau Go -Jek.
Justru mereka itu kerja secara tekhnologi karena EMG technology age to day, dari pada jadi TKI di negeri orang mendingan jadi TKI di negara sendiri.
Satu hal lagi pandangan masyarakat kita yg perlu dikikis kalo seorang sarjana bila kerja sebagai tukang kebun, apa lagi tukang gojek maka serba sibuk membahas dan mengucilkan, tp mereka tidak tau bahwa mereka itu yg sebenarnya yg patut diteladani.
Tp mereka tidak sibuk mencari solusinya,apa penyebab sebenarnya sehingga seorang sarjana mau job itu.

* NO SPAM, PLEASE.
* Jangan komen kalo cuma ngarep kunjungan balik. Jadilah blogger ikhlas :)

EmoticonEmoticon