Thursday, August 25, 2016

Testimoni oh testimoni







Testimoni menurut kamus berarti konfirmasi, pembenaran, pembuktian. Istilah testimoni makin familiar kayanya sejak online shop merajalela. "kalo gak percaya baca aja testi kita sis", gitu kata kata penjual online buat ngeyakinin pembeli. Bagi para penjual, testimoni adalah kekuatan yang powernya terkadang lebih hebat dari promosi. Seseorang bahkan bisa memutuskan membeli.sebuah produk hanya dari mendengar sebuah testimoni. "saya pake obat A langsung sembuh gak pake lama, padahal dari dulu udah pake obat B yang lebih mahal tapi ternyata gak ngefek". Sebuah contoh pengakuan yang bisa membuat seseorang memutuskan untuk membeli produk yang sama hanya dalam beberapa detik.


Kekuatan testimoni ini disadari oleh para penjual bisa menarik pembeli bagai magnet. Jadi jangan heran bagi penjual online bukan hanya foto produk yang diposting, namun juga testi. Semakin banyak testi artinya semakin banyak pembeli. Banyak pembeli artinya emang.produknya bagus. Akhirnya testi= menarik pembeli.


Namun, sebagai pembeli kita juga mesti kritis dalam membaca testimoni. Testi itu bersifat relatif, bukan sesuatu yang absolut. Amat berbahaya kalo kita mendasarkan keinginan untuk membeli sebuah produk hanya karena iming iming testimoni yang aduhai. Si A mungkin berhasil kinclong pake produk pemutih merek "apa aja deh ", tapi yang lain mungkin mengalami iritasi, gatal gatal, ato bahkan terkelupas. Karena tipe kulit masing masing berbeda. Bisa jadi tipe kulit kita sensitif, gara gara testimoni kita gak kritis lagi soal kandungan didalam produk itu yang ternyata terlarang diaplikasikan ke tipe kulit kita. "Banyak yang pake itu kulitnya putih cerah, berarti kalo saya make pasti ngefek juga". "banyak yang berhasil kurus pake obat ini, berarti bagus dong". Pola pikir banyak testimoni positif = pasti bagus itu menjerumuskan, apalagi bagi kita sebagai konsumen.


Masih ingat kan dengan iklan sebuah klinik pengobatan yang rame jadi meme di Internet gara gara iklannya yang agak cringeworthy. Iklan itu akhirnya dihentikan bukan hanya karena klaimnya yang over the top, tapi juga karena narasi iklannya yang lebih mengandalkan testimoni dibanding bukti ilmiah. Dalam dunia medis, testimoni pribadi tidak bisa dijadikan landasan. Karena sangat subjektif, berdasar pengalaman masing masing individu yang berbeda.


"Data testimoni tidak lah valid digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, setidaknya untuk beberapa alasan. Pertama, data testimoni yang bersifat subyektif tentu tidak bisa dijadikan dasar kebenaran manfaat suatu produk atau obat, sebab parameter manfaatnya di sini tidak terukur jelas dengan metode empirik, artinya orang lain tidak bisa mengukur manfaatnya dari luar dengan panca indera selain hanya mendengarkan pengakuan si pengguna. Metode seperti ini sangatlah rentan terhadap penipuan. Misalnya efektivitas obat diabetes tentu harus bisa diukur seberapa besarkah ia mampu menurunkan kadar gula darah?seberapa lama efeknya?pada kelompok orang dengan karakter yang seperti apa obat ini efektif? apakah efek sampingnya? Semua harus bisa diukur dengan jelas dan obyektif, bukan hanya berdasar pengakuan seseorang bahwa setelah mengkonsumsi obat tersebut badan jadi terasa enak, segar, nyaman, energik, dan lain-lain. Apa yang dimaksud “enak”?Apakah ada parameter “nyaman”?Apa alat ukurnya?Bahkan ukuran enak antara orang yang satu dengan yang lain pun bisa berbeda, apa standarnya?Tidak ada."


Pada akhirnya, kitalah yang harus kritis sebelum membeli sebuah produk atau menggunakan jasa. Mendengarkan testimoni bukan hal terlarang kok. Justru testimoni berperan penting bagi pembeli online di Marketplace seperti Tokopedia ato BukaLapak. Kita bisa cari tau kayak apa penjualnya, trusted ato enggak. Gimana pengalaman pembeli berbelanja ditoko itu. Gimana kualitas barangnya. Testimoni berperan.penting dalam aspek ini buat pembeli. Tapi kalo udah berhubungan sama kesehatan ato organ tubuh kita. Mendingan jangan coba coba deh. Perbanyak cari tau dulu sebelum memutuskan mengkonsumsi obat ini. Pake terapi ono ini, ato diet jenis A,B,C..

Sekali lagi, testimoni gak bisa dijadikan dasar. Toh dibalik testi positif, pasti ada. testimoni jelek. Tapi orang orang berkepentingan dibalik itu (penjual, pemilik usaha, dll) bisa memilih untuk menampilkan hanya testi yang bagus bagus aja, yang gak bagus disembunyiin. Kitanya sebagai konsumen yang mesti smart. Jangan mau coba coba cuma karena baca testimoni. Buat kesehatan kok coba coba?.




Sumber Kutipan
https://indoskeptics.wordpress.com/tag/anekdot/

* NO SPAM, PLEASE.
* Jangan komen kalo cuma ngarep kunjungan balik. Jadilah blogger ikhlas :)

EmoticonEmoticon