Monday, October 10, 2016

Belajar dari kisruh kasus Mario Teguh




Ketika sang motivator terbelit kasus

Rame rame kasus seorang motivator kenamaan di Indonesia yang digugat sama orang orang dari masa lalunya menggelitik saya buat bikin tulisan ini. Sebenarnya saya gak terlalu ngikutin kasus ini sih, tapi pemberitaan bertubi tubi  di televisi dan sosial media bikin saya cukup ngeh sama alur ceritanya. Dan dibalik drama keluarga ini, ada beberapa pembelajaran yang bisa kita petik, diantaranya :


1.      Berdamai dengan masa lalu bukan hal yang mudah
It’s easier said than done. Mario teguh yang kerap mendengungkan untuk berdamai dengan masa lalu dihampir setiap  acara motivasinya maupun sosial medianya nyatanya belum mampu menunjukkan seperti apa harusnya berdamai dengan masa lalu dan diri sendiri. Terlihat bagaimana reaksi  beliau dalam menceritakan kembali kisah pengkhianatan sang pasangan dimasa lalu yang cukup emosional dan berapi api. Tanpa menafikan perasaan tersakiti beliau yang memang sulit untuk dikubur begitu saja ( kalaupun benar pengkhianatan itu terjadi,), sepertinya seorang Mario teguh belum mampu mengaplikasikan petuah bijak yang sering ia sampaikan itu ke dirinya sendiri.

2.      Bijak itu di perbuatan, bukan diperkataan.
Menyaksikan bagaiman reaktifnya sang motivator di social media dengan mengunggah postingan yang bukannya meredam bara permasalahan malahan bagai menyiram bensin dalam kobaran sekam, menyadarkan saya bahwa kebijaksanaan itu bukan diukur dari apa yang terucap namun dari tindakan. Memosting foto dan caption yang mengundang netizen untuk saling adu mulut, tuding menuding rasanya tidak mencerminkan sebuah perilaku yang bijak. Akan lebih baik jika pak Mario dan timnya memberikan statement misalnya “kami meminta maaf akan permasalahan yang terjadi, persoalan ini jadi urusan internal kami dan pihak pihak yang terkait’dan setelah itu silakan bergerilya dibelakang layar untuk menyelesaikan permasalahan. Bukannya malah membalas pantun dengan memosting foto anak anak beliau dengan caption yang memantik kisruh publik “anak saya bernama … dan …., saya tidak punya anak lain selain kedua anak ini”. Ouch, bukan seperti itu seharusnya seorang motivator dan penyampai kata motivasi bijak menghadapi permasalahannya.

3.      Image is everything.
Sangat disayangkan acara Golden Ways yang sudah bertahta selama kurang lebih  10 tahun di televisi akhirnya harus tutup usia, entah apakah ada hubungannya dengan kasus Mario teguh dan Kiswinar, tapi tidak bisa dipungkiri kalau permasalahan ini turut mengikis reputasi  seorang Mario teguh. Disini kita bisa belajar bahwa kekhilafan sedikit saja bisa menurunkan nama baik yang sudah susah payah kita bangun. Walaupun fanpage likesnya masih berjumlah 19 juta lebih dan masih banyak pengikut setia yang menantikan hadirnya Mario teguh di televisi, tapi  kita tidak bisa denial kalau image beliau tidak lagi seutuh seperti sebelum kasus ini mencuat ke publik. Sungguh sayang.
 Well,tulisan ini bukan untuk menyudutkan salah satu pihak , walaupun kelihatannya seperti itu. Saya bukan pendukung pihak manapun karena saya yakin masing masing pihak yang terlibat punya “porsi” salahnya masing masing. Saya cuma pengamat yang mencoba mengambil pembelajaran dari berbagai hal yang terjadi disekitar.
Akhir kata, tidak afdol rasanya kalo tidak menutup tulisan ini dengan salah satu quote bijak dari Mario teguh
“Engkau disebut dewasa jika menyadari bahwa tidak setiap ajakan untuk bertengkar kau layani. Dan engkau disebut bijak jika mampu mengatasi pertengkaran melalui kesabaran dan persahabatan.”

                                          

* NO SPAM, PLEASE.
* Jangan komen kalo cuma ngarep kunjungan balik. Jadilah blogger ikhlas :)

EmoticonEmoticon