Wednesday, May 3, 2017

Cak Budi, jiwa sosial, dan kepercayaan yang hilang.


kitabisa, aksi cepat tanggap, dompet dhuafa
source : poskota news



Saya pertama kali mengenal nama cak budi dari sebuah akun Instagram gossip terbesar di jagad maya. Yang sering merepost kegiatan sosial dari yang bersangkutan. Dari situ saya mengetahui bahwa Cak budi adalah seorang donatur yang sering menggalang dana untuk kegiatan sosial seperti menyantuni dhuafa yang sudah sepuh, memberikan donasi untuk anak sekolah di pedalaman, dll. Sampai beberapa hari belakangan ini, dunia maya digegerkan dengan postingan dari sebuah akun instagram yang menguak  fakta bahwa dana dana yang dikumpulkan ke Cak budi ini ternyata tidak sepenuhnya diberikan kepada yang berhak, namun juga masuk kantong pribadi.

Jagad persosmedan pun jadi gaduh. Cak budi, seorang yang terkenal didunia maya dengan jiwa sosialnya itu menyelewengkan dana donasi?, sepertinya tidak mungkin, begitu rata rata komentar netizen. Sampai kemudian fakta yang lebih wow terungkap. Yang bersangkutan memiliki Toyota Fortuner dan Iphone dari “hasil” donasi. Netizen pun sontak “beringas”. Kolom komentar di akun cak budi sampai ribuan, rata rata penuh dengan hujatan, ungkapan kekecewaan dari yang sudah berdonasi lewat cak budi, sampai komentar numpang nyinyir dari orang orang yang (sepertinya) tidak ikutan nyumbang.

Kecewa itu wajar. Namanya kita menyumbang untuk membantu, lalu tahu uang kita tidak digunakan ke hal yang semestinya memang bikin gregetan. Tapi toh mau bilang gak ikhlas juga udah kejadian kan?. Mau bilang ikhlasin aja, kok masih mangkel ya?. Jadi lebih tepatnya sih mungkin bilang, lupakan saja. Jadikan pelajaran supaya kedepannya kita bisa menyalurkan uang atau bersedekah ke lembaga yang berwenang.


Atau mungkin kita takut kalau balasan kebaikan dari Tuhan atas sumbangan kita juga ikutan dikorting?.  Oh tenang, Tuhan tidak setimpang itu kok. Ia maha membalas kebaikan yang sudah kita lakukan. Wong baru sekedar niat aja udah ada balasan pahala. Apalagi yang udah action.


Urusan sosial, orang Indonesia memang gak usah diragukan lagi. Budaya kolektivitas yang melekat membuat kita jadi mudah berempati dan ringan tangan. Kasarnya, pengemis aja bisa kaya raya kok disini. Bahkan sekelas ajang pencarian bakat pun yang dijual kadang bukan bakatnya, tapi juga cerita hidup yang bikin trenyuh. Yang membuat pemirsa berbondong bondong mengirim SMS karena simpatik.


Kembali lagi ke Cak budi, rasanya agak miris membaca kolom komentar di akunnya, penuh dengan hujatan dan cacian. Sementara beberapa hari sebelumnya masih banyak yang memuji dan mendukung. Ah, Tuhan memang begitu mudah membolak balik hati manusia. Yang tadinya cinta berbalik jadi muak, dan sebaliknya. Ya, Cak budi memang salah karena menyalahgunakan amanah yang sudah dititipkan. Tapi anda, saya, dan kita semua yang dengan mudahnya mencaci maki, apakah yakin kita akan imun dari kesalahan serupa ?. Kejadian yang sama bisa saja terjadi kepada kita sebagai subjeknya. Mungkin kita bisa bilang, “ah kayanya saya gak mungkin kayak gitu. Saya kan amanah”. Mengatakan “saya amanah” ketika tanggung jawab itu belum dibebankan sama seperti orang yang bilang “saya setia” ketika godaan belum ada.


Kita bisa saja terjerumus ke kesalahan yang sama seperti Cak Budi lakukan. Kita bisa bilang tidak mungkin namun kemungkinan itu akan selalu ada ketika uang sudah didepan mata. Sama seperti Cak budi, saya yakin bahwa pada awalnya juga tidak pernah sedikitpun terlintas  membuka donasi untuk kepentingan pribadi., awalnya memang murni untuk membantu sesama.  Namun uang punya kekuatan yang teramat sangat untuk mengubah seseorang. Apalagi manusia dengan keimanan naik turun. Tidak ada jaminan bahwa kita pasti selamat dari godaan kertas bernilai itu.


Semoga dengan terungkapnya kasus Cak budi ini membuat tidak membuat kita jera untuk membantu sesama. Saya yakin tidak, iya kan?. Saya percaya orang Indonesia sampai kapanpun akan selalu lekat dengan budaya kebersamaan, senang membantu, dan berjiwa sosial. Namun akan lebih baik jika kita mengutamakan membantu orang yang paling dekat terlebih dahulu, misalnya sanak saudara atau tetangga. Kalaupun ingin menyumbang, percayakan uang kita pada lembaga yang memang terpercaya.


Pada akhirnya, hanya Tuhan dan orang orang itu yang tahu apakah dana sumbangan kita memang digunakan sebagaimana mestinya atau “dicolek” sedikit sedikit. Kita tidak bisa seratus persen memastikan hal tersebut. Tapi kita bisa memastikan bahwa janji Tuhan untuk orang orang yang berbuat baik itu pasti. Kita boleh kurang, atau bahkan kehilangan kepercayaan pada orang orang yang mengelola dana kita. Namun jangan sampai kita tidak percaya bahwa balasan Tuhan itu ada. Sebagaimana firmanNYA di dalam Alqur’an :

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.”

(Q.S. Az Zalzalah Ayat 7-8)


Sebagai penutup, ada penggalan lirik dari  lagu legendaris milik lady rocker Indonesia, Nicky Astria yang sepertinya cocok untuk tulisan ini. Bukan, ini bukan hanya sentilan kepada Cak budi. Namun juga  untuk kita semua, sebagai pengingat bahwa kita bisa saja terjerembab ke kesalahan yang sama.

Memang uang bisa bikin orang senang tiada kepalang
Namun uang bisa juga bikin orang mabuk kepayang
Lupa sahabat lupa kerabat lupa saudara
Mungkin juga lupa ingatan...


* NO SPAM, PLEASE.
* Jangan komen kalo cuma ngarep kunjungan balik. Jadilah blogger ikhlas :)

EmoticonEmoticon