Monday, February 26, 2018

4 ujaran seksis yang harus berhenti kita ucapkan


seksis adalah, feminis



Pernah denger kata “seksis”  atau “seksisme”? Apa itu?  Sesksime berdasarkan Wikipedia berarti diskriminasi dan/atau kebencian terhadap seseorang yang bergantung terhadap seks (jenis kelamin). Sedangkan seksis bisa disimpulkan sebagai perilaku diskriminatif berdasarkan jenis kelamin. Misalnya beranggapan kalo perempuan itu gak cocok jadi pemimpin, bukan karena kapabilitasnya tapi hanya karena ia seorang perempuan lalu dianggap kurang layak memimpin.

Pernah denger lagunya Iwan Fals yang berjudul “Mata indah bola pingpong”? I love that song to be honest, tapi ada liriknya yang mengarah pada seksisme yang bikin telinga saya gak nyaman.

Jangan  marah kalau kugoda
Sebab pantas kau digoda
Salah sendiri kau manis
Punya wajah teramat manis


Coba ya hey kamu kaum pria kalo punya anak perempuan ada yang gangguin, trus kamu tanya

“kenapa kamu godain anak saya?"

"ya salah dia sendiri pak, kenapa  jadi cewek cantik”

Kalo kamu gak pengen nabok denger jawabannya, there’s something wrong with you.

Dilahirkan dengan wajah cantik atau gak cantik itu bukan kehendak kita kan? Kita gak bisa request bentuk muka, bentuk hidung, warna kulit, sama Sang Pencipta. Trus kalo dia terlahir cantik salah siapa? Salah bapaknya ? ibunya? Bukan salah bunda mengandung. Ato salah Tuhan? Berani kamu nyalahin Tuhan?

Dalam kehidupan sehari hari, mungkin kita gak sadar pernah berperilaku seksis, saya pun juga pasti pernah kayak gini. Apalagi kita besar di negara yang menganut adat ketimuran dimana budaya patriarki masih kental. Sehingga secara gak langsung mempengaruhi pola pikir kita, misalnya pemikiran kalo cewek harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sehingga kalo ada cewek yang gak bisa masak langsung dipandang sebelah mata dan dianggap kurang ”wanita” dan masih banyak lagi contoh pandangan seksis yang selama ini kita amini padahal sebenernya pemikiran merugikan bagi kita, kaum wanita


Apa aja sih ucapan yang sering kita lontarkan dalam kehidupan sehari hari yang kita gak tau ato gak sadar kalo itu seksis?

1.        “Jadi istri harus pinter rawat diri, biar suami gak berpaling




Kalo soal perawatannya sih saya setuju ya. Tapi kalo motivasinya biar suami gak berpaling kok dangkal banget ya? i agree kalo menyenangkan pasangan itu termasuk ibadah, dan merawat diri itu salah satu caranya. Tapi kalo tujuannya cuma biar pasangan gak kelain hati itu berarti anggapannya kalo pinter ngerawat diri pasti suami gak berpaling, padahal nyatanya banyak juga yang udah cantik bak ratu kecantikan tapi tetep diselingkuhi ato nyari yang lebih cantik.

Dari kata kata ini juga menyiratkan bahwa kalo suami berpaling itu karena kesalahan istri. Berarti istri kurang ini itu bla bla bla. Seperti  justifkasi bahwa wajar kaum pria main serong karena pasangan tidak bisa menjaga penampilannya. Seolah olah kaum pria tidak punya kuasa untuk mengontrol dirinya biar tidak jatuh ke jurang perselingkuhan.

Lagipula, merawat diri seharusnya bukan HANYA karena untuk pasangan, tapi yang lebih utama adalah untuk kesenangan kita pribadi. Sebagai perwujudan dari mencintai diri sendiri, bukan narsis, tapi wujud menghargai diri sendiri.

Tulisan ini bukan pembenaran untuk gak mempercantik diri ya. Salah satu wujud dari menghargai dan mencintai pasangan adalah menjaga penampilan. Dan keharusan ini (seharusnya) gak cuma disematkan ke istri tapi juga suami.

2.       “Jadi cewek gak boleh gendut”


source : jawapos



Trus kalo cowok boleh ndut gitu? penyakit karena kegemukan gak pandang cewek atau cowok, Gak bisa dipungkiri kalo tuntuntan untuk berpenampilan menawan itu lebih dibebankan ke kaum cewek daripada cowok. Jadilah kaum cowok bisa "dimaafkan" kalo punya bodi ndut, muka pas pasan, yang penting duit bertumpuk, sebertumpuknya lemak diperut. Coba kalo cewek, udahlah jadi korban body shaming yang (sedihnya) kebanyakan dilakukan sesama cewek. Punya banyak duit pun gak lantas bisa membuat masalah berat badannya bisa dimaklumi sebagaimana kaum cowok. Yang ada malah nyinyiran pedih "punya banyak duit ya nge gym kek ato sedot lemak biar enak diliat"

Yang lebih bikin sedih kebanyakan yang nge bash body perempuan itu adalah kaum perempuan itu sendiri. Padahal seharusnya sebagai perempuan semestinya kita harus saling empower each other ( in a good way), tapi gak jarang kita suka ngata ngatain dan menghina fisik sesama perempuan.


"Cowok tuh gak boleh penakut"


Takut itu gak kenal gender. Dikeluarga saya, mamalah yang lebih berani ngusir kecoak dibanding papa yang udah lebih dulu sembunyi dikamar. Rasa takut itu manusiawi kok. Kayak lirik lagu dangdut.

"Rasa takut pasti ada, pada makhluk yang bernyawa."

Pemikiran seksis sebenernya gak cuma memojokkan kaum wanita, tapi juga pria. Jadi pria gak boleh penakut, nangis, lebay, emosional. Kalo penakut biasanya dibilang banci, bukan pria sejati dan sederet ejekan lain. Padahal pria kan bukan robot terminator yang hampa emosi.

Dilecehkan = salah sendiri





Kalo ada berita cewek kena pelecehan seksual pasti komen yang menyeruak lebih dulu adalah "mungkin dia pake baju yang mengundang" ato "mungkin perempuannya yang menggoda duluan" duuh, rasanya pengen berubah jadi Hulk trus ngepites orang orang yang ngomen kayak gini.

Saya bukan orang yang menganut paham cewek bebas pake baju terbuka kalo ada resiko yang terjadi itu salah cowoknya yang otak mesum. Well, menurut saya kedua belah pihak punya tanggung jawab masing masing. Sebagai cewek ya kita mesti bisa berbusana sesuai pada tempatnya. Sebagai cowok juga harus bisa menjaga pandangan dan mengontrol diri (dan nafsu). But rape is rape, it's a crime. Kalopun korbannya kebetulan pakai baju terbuka trus dia dilecehkan secara seksual apa itu membuat si pelaku jadi less guilty? apakah itu membuat kita jadi memaklumkan perbuatan menjijikkan itu karena menurut kita si korban juga "mengundang" untuk dilecehkan?

Banyak dari kita yang belum memahami bahwa busana itu adalah bagian dari cara seseorang mengekspresikan diri. Kalo ada cewek yang senang pakai baju terbuka ya mungkin itulah gaya berpakaian yang bikin dia nyaman. Wearing sexy wardrobe isn't an invitation for men to treat a woman in a demeaning way, let alone rape her. Saya gak menyangkal kalo ada perempuan yang sengaja pakai pakaian terbuka buat mengundang pandangan kagum para pria. Kalo yang kayak gitu mah ya pandangi aja puas puas, tapi kalo udah sentuh menyentuh without her consent itu beda lagi ceritanya.

Memaklumi dan menerima bahwa seorang wanita pantas dilecehkan karena dia berpakaian minim bagi saya sama "sakit"nya dengan si pelaku pelecehan itu sendiri.

Tinggal di negara dengan budaya patriarki yang kental seperti Indonesia memang membuat kita terbiasa dengan ucapan ucapan seksis yang merendahkan dan memojokkan wanita, bahkan juga kaum pria. Sialnya lagi kaum wanita sendiri terkadang gak sadar bahwa mereka ikut berkontribusi melanggengkan seksisme ditengah masyarakat.  Misalnya mengganggap bahwa wanita yang gak bisa masak itu less woman dan kurang cocok diperistri. Masih banyak wanita, terutama generasi yang lebih tua berpandangan seperti ini. Padahal memasak adalah basic life skill yang harus dimiliki baik oleh pria ataupun wanita.

Menghapus seksisme sendiri di Indonesia sepertinya akan jadi PR yang maha berat. Tapi bukan berarti kita gak bisa melakukan apa apa. Yang paling mudah ya mulai dari merubah pola pikir kita dulu. It's okay kalo mungkin kita gak bisa jadi seseorang yang seratus persen gak seksis. Tapi seenggaknya kita bisa dan mau merevolusi pola pikir yang sudah berakar sekian tahun hasil bentukan lingkungan sekitar yang gak kita sadari mungkin termasuk seksis.


Bagaimana pendapat kamu?





4 komentar

setuju sis. Ujaran seperti itu memang harus dibiasakan dihilangkan. Apalagi sama-sama perempuan juga harus bisa saling menguatkan bukan saling menjatuhkan.

sama nih kayak misalnya, 'Jadi cowok nggak boleh cengeng' lah emangnya kenapa kalo nangis, cowok sama cewek sama aja kan ya, sama2 punya perasaan. Masak cowok nggak boleh mengeluarkan emosinya buhh

Stereotype untuk jenis kelamin ya. Sejujurnya, malah saya itu suka sekali untuk lepas dan mendobrak stereotype jenis kelamin. Misal, cewek kalo badmood ajak aja belanja, cewek kalo PMS macam singa lapar, dll dll.

Mungkin dalam kasus seperti ini, ditengahi dengan nasehat yang baik yah. Menurut saya, hal tersbeut bisa terucap adalah bentuk sanksi sosial karena dia berlaku 'tidak seperti cewek/cowok biasanya'.

Solusinya, nasehati dengan cara yang baik.

Wallahualam hehehe.

Iya, memang seharusnya kalo kita denger ada orang orang yang berkomentar seksis kita tegur aja baik baik. Misalnya ada cowok yang komen "Cewek yang gak bisa masak itu payah" kita bisa nasihatin "Mau cewek ato cowok ya harus bisa masak walopun yang simpel simpel. Kalo gak bisa masak ntar gimana kalo tinggal sendiri, masak mau beli terus?"

* NO SPAM, PLEASE.
* Jangan komen kalo cuma ngarep kunjungan balik. Jadilah blogger ikhlas :)

EmoticonEmoticon