Thursday, July 5, 2018

Tiktok, Bowo, dan Media Sosial


Gambar : Tribunstyle


Halo, udah lama gak nulis blog gara gara keasikan libur lebaran plus males, akhirnya hari ini bisa update lagi. Tapi kalo gak rame rame soal Tiktok sih mungkin saya juga gak nulis, hihi J. Pasti semua udah tau aplikasi Tiktok dong ya? Itu loh yang aplikasi buat bikin video pendek, buat lipsync ditambah efek filter filter lucuk. Sejak beberapa bulan ini Tiktok jadi popular banget sekaligus dibenci karena banyak yang beranggapan aplikasi ini gaje banget dan gudangnya para alay (emang bener sih) Sampai akhirnya karena keluhan masyarakat serta petisi untuk meminta pemerintah memblokir Tiktok, aplikasi ini resmi diblokir pada 3 Juli kemaren, walopun akhirnya ada rencana Pemerintah buat membuka blokir  selama ada filtering untuk konten negatif.

Selain soal konten konten Tiktok, ada sesosok anak remaja yang jadi viral gara gara tiktok dan sesaat setelah keviralannya di dunia maya, Tiktok pun diblokir. Adalah Bowo, seorang anak 13 tahun yang hanya menjalani kehidupan masa pubernya apa adanya. Namun kemudian menjadi bahan bullying semedsos gara gara doyan tiktokan dan bikin meet and greet berbayar. Padahal bukan salah bunda mengandung eh maksudnya bukan salah bowo kalau jumpa fans berbayar itu terjadi. Namun karena segelintir orang (baca : panitia penyelenggara) yang ingin memanfaatkan situasi buat mengeruk duit dari para remaja baru gede yang masih minta duit sama ortu. Akhirnya bowo lah yang kena getah dan jadi bahan hujatan semesta dumay. #pukpukbowo

Saya bisa memahami keprihatinan para netizen soal tiktok ini. Apalagi kebanyakan yang terserang virus tiktok ini adalah para remaja. Bayangkan kalo para pemuda harapan bangsa ini menghabiskan waktu buat tiktokan, bagaimana masa depan bangsa Indonesia ini, hah? (buru buru packing pindah ke Jerman)

Tapi nih ya kalo mau jujur dan adil (Pemilu kalee), semua media sosial itu berpotensi buat bikin para remaja pada khususnya menjadi alay dan terpapar konten negatif. Instagram, facebook, snapchat, twitter, youtube dan segala medsos lainnya itu juga punya potensi buat merusak mental para penggunanya. Konten negatif bisa dengan mudah ditemukan di media sosial tersebut, mulai dari yang berbau pornografi sampe SARA. Lalu kenapa seperti fokus cuma sama tiktok aja?

Kalo masalah merusak mental, again semua medsos pun juga punya kemungkinan buat merusak mental dan pemikiran, TV juga. Di sinilah peran orang tua harusnya bisa membimbing dan mengawasi, bukan malah ikut ikutan tiktokan juga #eehhh. Orang tua mestinya bisa membimbing gimana cara menggunakan media sosial dengan baik dan bertanggung jawab. Boleh instagraman misalnya, tapi cuma follow akun akun yang berfaedah. Bukan selebgram ato lambe turah. Trus yang ngefollow juga hanya boleh lingkungan teman teman sendiri, bukan orang asing. Lalu dalam aspek yang lebih luas, mungkin pemerintah perlu memasukkan literasi digital ke dalam kurikulum sekolah biar anak anak remaja bisa memahami bagaimana seharusnya mereka menggunakan dunia maya untuk kegiatan yang positif, bukan cuma buat eksis.

Balik lagi ke bowo, udahlah anda anda para netizen, leave him alone. Gak perlu dihujat lah karena aslinya gak seganteng di medsos, emangnya situ enggak? (nyeemmm) Gak usah sinis lah karena dia suka ngalay di tiktok. Biarkanlah, dia hanya mengekspresikan kealayannya  dirinya. Kayak judul lagu mbak BCL, Pernah Alay, kita semua juga pernah kayak gitu kan? No?


2 komentar

Kita itu sering disuguhi iklan entah dari media sosial atau elektronik. Manusia sempurna itu berwarna putih, rambur lurus, berbody langsing tinggi, hidung mancung, rambut pirang, mata berwarna biru.
Sehingga jika melihar orang berkulit gelap dianggapnya, manusia rendahan.
Ya ,semua termakan oleh iklan.

Bowo nggak salah, doi kan cuma pencari hiburan doang, yg salah ya orang yg ngeliat bowo itu sendiri :D

* NO SPAM, PLEASE.
* Jangan komen kalo cuma ngarep kunjungan balik. Jadilah blogger ikhlas :)

EmoticonEmoticon