Friday, September 29, 2017

Panjat sosial aka social climber



panjat sosial, awkarin
source : pinterest


Istilah social climber udah familiar ditelinga saya sejak 2010an gitu deh kalo gak salah. Tapi pemakaiannya waktu itu terbatas cuma buat kalangan sosialita. Sekarang istilah ini sudah mulai meluas penggunaannya. Bukan cuma kalangan sosialita, tapi juga jelata. Hehe... Emang social climber, ato dalam bahasa Indonesia panjat sosial maksudnya apa sih? Berdasarkan google translate, social climber is a person who is eager to gain higher social status. Jadi bisa diartikan kalo panjat sosial itu adalah orang orang yang ngebet banget buat mencapai status sosial yang lebih tinggi. Orang orang ini melakukan berbagai cara buat diterima dan diakui sebagai si kaya. Misalnya dengan memakai barang barang mewah buat mengesankan "nih lo gue mampu." Bisa juga dengan masuk kedalam lingkungan pergaulan orang orang berada walopun latar belakang sosial ekonominya berada dilevel yang berbeda.

Misalnya si C, gaya hidupnya 10 juta. Tapi dia ngotot pengen masuk kedalam lingkungan yang gaya hidupnya minimal ngabisin 50 juta. Jadi si C biar bisa diakui sama orang orang yang ada di circle ini mau gak mau harus keliatan selevel. Caranya ya dengan menyesuaikan gaya hidupnya dengan gaya hidup lingkungannya. Mulai dari gaya berpakaian, gaya bicara, tempat nongkrong, merek mobil yang dikendarai,merek tas yang dipake dll yang harus sesuai sama standar kelompok pergaulan ini biar bisa "dianggep."



source : Nova

The problem is,  gaya hidup dia mampunya cuma 10 juta. Trus gimana dong dia bisa biayain gaya hidup diluar kemampuannya ? Disinilah bagian "menyedihkannya", ada yang ngutang, ada yang pake barang pinjeman/sewaan ato barang palsu buat pencitraan kalo dia mampu beli barang barang mewah, ato melakoni pekerjaan yang negatif buat dapetin uang banyak dengan mudah. 

Dalam pergaulan sehari hari, pengen bisa dekat dan berteman dengan orang yang lebih kaya, lebih pinter, lebih cantik, lebih berkedudukan, dan segala lebih lebih yang lain itu manusiawi kok. Bedanya seorang social climber melakukan hal itu buat menguntungkan diri mereka sendiri bukan karena mereka tulus pengen temenan. Istilahnya, ada udang dibalik batu. Apalagi kalo berada dilevel kondisi ekonomi yang berbeda tapi memaksakan diri biar bisa sejajar levelnya sama lingkungan yang pengen dimasuki. Belum mampu tapi dipaksa paksain biar keliatan mampu. Menyedihkan sih jadinya.


Baca juga : Lucinta luna dan wajah kaum transgender di televisi

social climbing sebenarnya juga gak selalu berkaitan dengan materi, tapi juga kedudukan ato pangkat. Temenan sama orang orang yang populer ato yang high profile biar "kecipratan" eksis, dikagumi dan dihormati misalnya. Pasti pernah kan nemu tipe orang kayak gini? ato kamu salah satunya?

Lalu gimana biar didalam pergaulan kita gak ketemu sama orang orang macam ini? ya sebenarnya kalo kamu cuma rakyat jelata dalam artian bukan orang kaya ato anak orang kaya. Bukan orang yang terkenal ato punya jabatan ato punya keluarga/temen yang terkenal ato berpangkat, gak perlu kuatir juga sih. Kamu gak akan berada dalam radar mereka karena mereka kan ngincernya orang orang yang punya status sosial yang lebih tinggi.

Yang lebih penting untuk dipertanyakan adalah, gimana biar kamu (dan saya juga) gak terjerumus jadi seorang social climber?

1. Jangan terpaku dengan penilaian dan pengakuan orang lain

     Kalo prioritas utama dalam hidup adalah dapat pujian dan pandangan kagum dari orang  maka  kemungkinan besar kamu bisa jatuh ke pusara social climber. Jalanilah hidup apa  adanya. Kalo  emang belum mampu buat bergaya hidup mewah ya gak usah dipaksain.  Gak perlulah sampe  ngutang biar bisa mengesankan orang lain. Capek loh idup cuma  buat cari penilaian orang. Toh mereka juga gak terlalu peduli, apalagi bantuin bayar  cicilan.


2. Bergayalah sesuai kemampuan

Memaksakan diri buat bergaya hidup diluar kemampuan itu cuma bikin capek ati dan pikiran. Ntar jatohnya jadi BPJS budget pas pasan jiwa sosialita.Karena pas pasan akhirnya ngutang sana sini ato lebih parah, korupsi. Gak mau kan jalan hidup kamu berakhir seperti desainer pemilik travel umroh yang berkasus kemaren?

3. Pilih pilih teman boleh, asal....

Berteman itu harus pilih pilih loh. Maksudnya memilih yang berkarakter baik. Kalo pilih pilih   maunya temenan cuma sama yang tajir aja ato yang bertitel, waspadalah kamu sudah  terjangkit  sindrom ini. Emang gak boleh gitu temenan sama orang kaya? ya bolehlah, sah sah aja. Tapi kalo  yang mendasari kamu mau berteman sama dia karena dia kaya raya,pergaulannya kelas atas walopun sebenarnya kamu gak suka sama orangnya, itu yang bikin kamu bisa dikategorikan sebagai oportunis dan panjat sosial.


Kalo hidup yang dikejar cuma prestise, gengsi, materi, de el el mah capek, gak akan ada abisnya. Bukan cuma bisa terjerembab ke lembah social climber gara gara nafsu duniawi, tapi juga bisa terjatuh ke lubang korupsi, tipu tipu, ato bahkan kriminal. So, hiduplah sewajarnya kemampuan kita. Karena prinsip "beyond your limit" itu lebih pantes diterapkan untuk meraih cita cita, bukan dalam urusan gaya hidup.


4 komentar

Betuul... Setuju banget. Gak ada habisnya emang kalau udah masalah sosial climber ini, karena pada dasarnya diatas langit masih ada langit gitu kan, kepuasannya semu banget. Kalau aku sendiri juga suka pilih-pilih temen, milih yang lebih baik maksudnya, jadi kita bersaing dalam hal-hal yang baik :)

Yah.... bener sangat, apalagi sekarang kaum panjat sosial udah banyak. Mau pengakuan lebih dari lingkungnya, akibatnya harus mengorbankan hidup. Misalnya jual ginjal buat beli gadget baru :D

Mereka yang "panjat sosial" mungkin masih butuh pengakuan di lingkungan sosialnya dan beranggapan bahwa setelah melakukan "panjat sosial" , mereka merasa satu tingkat lebih tinggi daripada orang lain disekitarnya. Mirisnya lagi yang mereka perlihatkan hanyalah bersifat semu

Miris memang. Saya merasa mempunyai teman yg awalnya tulus, tp semakin lama semakin menumpang mengeksistensikan diri dg cara "menjadi teman saya". Dan lama kelamaan dia menjadi social climber. Padahal saya yg satu tingkat lebih berada drpd dia biasa biasa saja, dia malah ingin terlihat melampui saya. Miris kadang. Terlalu memaksakan keadaan realistis dirinya

* NO SPAM, PLEASE.
* Jangan komen kalo cuma ngarep kunjungan balik. Jadilah blogger ikhlas :)

EmoticonEmoticon